Wednesday, December 24, 2008

Hadis

Disebutkan dalam Hadits berikut :
'Umar bin Khattab berkata tentang suami yang lemah syahwat: " Dia diberi
tempo satu tahun. Jika dapat sembuh, (perkawinannya bisa diteruskan); dan
jika tidak, mereka boleh diceraikan dan istrinya mendapatkan mahar dan
harus ber'iddah." (H.R. Baihaqi)

Penjelasan :

Lemah syahwat ialah ketidakmampuan seorang laki-laki untuk memenuhi
kebutuhan biologis istri. Memenuhi kebutuhan biologis hanyalah dibenarkan
melalui perkawinan.

Maksud hadits di atas ialah istri yang memiliki suami yang mengidap lemah
syahwat berhak mengajukan perceraian jika penyakit suaminya tidak bisa
disembuhkan.

Seorang suami berkewajiban memenuhi kebutuhan biologis istrinya, karenanya
dia harus kuat syahwat. Tanpa memiliki kekuatan syahwat, tuntutan biologis
istri tidak akan dapat terpenuhi. Hal ini menjadi perhatian dalam syariat
Islam karena dalam perkawinan ada keharusan untuk saling memenuhi tuntutan
biologis merupakan salah satu faktor terciptanya suasana bahagia suami
istri.

Seorang perempuan muslim perlu memperhatikan sisi kemampuan syahwat calon
suaminya supaya kelak dalam menempuh kehidupan rumah tangga tidak terjadi
perselisihan dan pertengkaran. Bilamana suaminya lemah syahwat, hal ini
tentu akan merugikan dirinya.

Bagi seorang suami, karena adanya kesempatan untuk berpoligami, terjadinya
kelemahan syahwat pada istrinya dapat dikompensasi dengan mengambil
perempuan lain sebagai istri barunya. Akan tetapi, bagi seorang perempuan
muslim, hal semacam ini tidak bisa dilakukan. Pilihan yang bisa diambil
ialah menerima keadaan suami atau bercerai. Untuk itulah, perlu sekali
adanya pemilihan selektif terhadap laki-laki yang hendak menjadi suaminya.

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam perkawinan,
sebelum seorang perempuan muslim mengikat diri dengan seorang laki-laki
muslim sebagai suami istri, ia perlu meneliti kemampuan syhwat calon
suaminya. Agar dapat mengetahui seberapa jauh kesehatan dan kemampuan
syahwat yang bersangkutan, dapat diadakan penyelidikan dengan cara-cara
antara lain:

1. Menanyakan kepada yang bersangkutan tentang keadaan dirinya. Sudah
tentu yang bersangkutan harus memberi jawaban dengan jujur atau mengambil
sumpah dengan nama Allah. Jika ternyata ia berdusta, ia harus berani
menanggung resiko atas kebohongannya kelak. Cara ini memang ini kurang
efektif, namun sebagai muslim cara ini menumbuhkan tanggung jawab akhirat
jauh lebih berat bagi yang bersangkutan. Jika dia berbohong, dosanya
tidak hanya kepada perempuan yang menjadi istrinya, tetapi juga kepada
Allah. Allah kelak akan menjatuhkan hukumannya di akhirat.

2. Meminta yang bersangkutan untuk melakukan tes kesehatan seksual, apakah
ia termasuk orang yang lemah syahwat atau normal.

Karena dalam perkawinan kebutuhan seksual atau biologis merupakan hal
mutlak, baik bagi suami maupun istri, para perempuan muslim tidak boleh
merasa malu untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan syahwat calon
suaminya. Kalau hal ini tidak diketahui secara dini, kemungkinan kelak
akan terjadi masalah pada diri yang bersangkutan, sehingga boleh jadi ia
akan merasa tertipu dan mengalami trauma untuk bersuami. Supaya tidak
terjadi akibat buruk semacam ini, perlulah para perempuan muslim sejak
awal mengetahui kondisi seksual calon suaminya. Jika ternyata ia orang
yang lemah syahwat, lebih baik ia menolak lamarannya suapaya tidak
merugikan dirinya.

Para perempuan muslim harus menyadari bahwa kebutuhan biologis bukan
semata-mata untuk dirinya, melainkan juga untuk mendapatkan keturunan,
sebab perkawinan disyari'atkan oleh Islam terutama bertujuan untuk menjadi
sarana pengembangbiakan jenis manusia secara halal di muka bumi. Hal ini
hanya bisa dilakukan bilamana suami dapat melakukan fungsi biologisnya
kepada istrinya dengan baik. Oleh karena itu, pilihlah suami yang tidak
lemah syahwat.***

Berdasarakan hadith diatas, maka kita manusia hendaklah berusaha agar rumah tangga kita bahagia dan kita dapat hidup sempurna sebagai seorang lelaki sejati.

-kuatlelaki.xaper

No comments:

Followers

My Blog List